RATU EKA BKJ - Dialektologi menjadi sub bidang Linguistik, yang penting dikaji. Karena, berkaitan dengan kajian dialek antar wilayah dan masa. Logat suatu masyarakat, yang bisa beragam. Pada satu kata tertentu, dapat mengalami perubahan diksi atau sekedar pengucapan.
Baik, bergeser disebabkan oleh waktu perkembangannya. Maupun, diakibatkan dari terbentangnya geografi. Tentunya, semua itu akan dibahas dalam studi Dialektologi. So, untuk lebih jelasnya yuk cek pemaparan dari RATU EKA BKJ yang di bawah Guys! Cekidot.
Variasi Dalam Dialektologi
Variasi bahasa dalam Dialektologi, dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai dimensi. Sangat penting untuk dipahami. Karena, ini sebagai sarana menganalisis suatu dialek. Tentunya, dalam sub bidang Linguistik. So, berikut beberapa variasinya, antara lain:
Variasi Regional atau Geografis
Ini merupakan, fokus utama Dialektologi Tradisional. Variasi terjadi karena, penutur tinggal di wilayah yang berbeda. Perbedaan dapat muncul sebab, adanya jarak geografis dan sejarah perkembangan masyarakat.
👉Contoh :
Variasi Sosial
Variasi Sosial dapat berkaitan dengan kelas sosial, pendidikan, profesi / karir dan pekerjaan, usia, kelompok sosial, status sosial. Jenis ini, menjadi perhatian khusus dalam Sosiolinguistik. Tetapi, tetap relevan di penelitian Dialektologi modern.
Variasi Temporal
Bahasa juga berubah, dari waktu ke waktu. Misalnya: Bentuk lama → bentuk transisi → bentuk baru. Karena itu, Dialektologi dapat memanfaatkan data dari berbagai generasi. Guna, untuk melihat perubahan dialek.
Variasi Situasional
Penutur dapat menggunakan, bentuk bahasa berbeda berdasarkan situasi. Misalnya: situasi resmi, kondisi santai, berbicara dengan orang tua, berbicara dengan teman sebaya, berbicara di tempat kerja. Variasi ini, lebih dekat dengan kajian Sosiolinguistik dan Pragmatik. Tetapi, dapat menjadi bagian dari penelitian Dialek. Apabila, berkaitan dengan karakteristik komunitas tutur.
Cabang Dalam Dialektologi
Dialektologi dapat dibedakan, menjadi dua cabang utama. Yakni, berdasarkan dimensi waktu dalam mengkaji variasi bahasa. Yaitu, Dialektologi Diakronis (Historis) dan Dialektologi Sinkronis. Dialektologi Diakronis (Historis) memandang, dialek berdasarkan perkembangan dan perubahan dalam perjalanan waktu. Sedangkan, Dialektologi Sinkronis merupakan dialek berdasarkan variasi yang terdapat pada masa tertentu. Keduanya saling melengkapi. Sanggup memberikan gambaran, mengenai kondisi variasi bahasa. Membantu menjelaskan proses terbentuk, dan berkembangnya variasi tersebut dari waktu ke waktu. So, berikut pemaparan lengkap antara keduanya, antara lain:
Dialektologi Diakronis (Historis)
Dialektologi Diakronis (Historis) adalah, cabang Dialektologi yang mempelajari perkembangan, perubahan, dan hubungan antar dialek dari waktu ke waktu. Pendekatan ini tidak hanya melihat, keadaan dialek pada masa sekarang. Tetapi, juga berusaha mengetahui bagaimana suatu dialek terbentuk dan mengalami perubahan sepanjang sejarah. Kajian Diakronis biasanya berkaitan dengan, sejarah suatu bahasa. Peneliti dapat membandingkan, bentuk bahasa pada masa lampau dengan bentuk bahasa pada masa sekarang. Guna, untuk mengetahui perubahan yang terjadi. Dialektologi Diakronis menekankan pada, dimensi waktu. Sehingga, pertanyaan yang ingin dijawab antara lain: Bagaimana suatu dialek berkembang? Perubahan apa yang terjadi? Dari mana suatu bentuk dialek berasal? Bagaimana hubungan historis antar dialek?
👉Topik Kajian :
Perubahan Bunyi, yaitu perubahan pelafalan suatu kata dari masa ke masa.
Perubahan Kosakata, yaitu munculnya kata baru, hilangnya kata lama, atau perubahan bentuk kata.
Perubahan Makna, yaitu perubahan arti suatu kata sepanjang waktu.
Perubahan Tata Bahasa, seperti perubahan bentuk kata atau struktur kalimat.
Hubungan Kekerabatan Antar Dialek, yaitu melihat apakah beberapa dialek memiliki asal-usul atau perkembangan historis yang berhubungan.
Pengaruh Bahasa Lain, misalnya masuknya unsur bahasa lain akibat perdagangan, migrasi, penjajahan, atau kontak antar masyarakat.
Dialektologi Sinkronis
Dialektologi Sinkronis adalah, cabang Dialektologi yang mempelajari variasi atau perbedaan dialek pada suatu periode atau masa tertentu, tanpa menjadikan perkembangan historis sebagai fokus utama. Peneliti menggambarkan kondisi bahasa, sebagaimana digunakan oleh masyarakat pada waktu penelitian dilakukan. Perhatian utamanya, perbedaan bahasa terdapat antara satu daerah atau kelompok penutur dengan daerah atau kelompok lainnya pada masa yang sama. Dialektologi Sinkronis menekankan pada, keadaan bahasa pada suatu masa. Sehingga, pertanyaan yang ingin dijawab antara lain: Apa saja perbedaan dialek yang terdapat pada saat ini? Di wilayah mana variasi tersebut digunakan? Bagaimana bentuk perbedaan bahasa antar daerah?
👉Topik Kajian :
Perbedaan Fonologi, yaitu perbedaan bunyi atau pelafalan.
Perbedaan Morfologi, yaitu perbedaan bentuk dan pembentukan kata.
Perbedaan Sintaksis, yaitu perbedaan susunan kata atau kalimat.
Perbedaan Leksikon, yaitu perbedaan kosakata yang digunakan oleh masyarakat.
Perbedaan Semantik, yaitu perbedaan makna kata atau ungkapan.
Persebaran Geografis Suatu Bentuk Bahasa, misalnya bentuk tertentu hanya ditemukan di wilayah tertentu.
👉Contoh :
Seorang Peneliti melakukan penelitian terhadap bahasa, yang digunakan masyarakat di beberapa daerah di Jawa Timur pada tahun sama. Peneliti menemukan bahwa, untuk menyebut suatu benda tertentu. Masyarakat Daerah A menggunakan kata yang berbeda, dengan masyarakat Daerah B dan Daerah C. Peneliti kemudian, mencatat dan memetakan perbedaan tersebut. Kajian seperti ini merupakan, Dialektologi Sinkronis. Karena, berfokus pada keadaan variasi bahasa pada satu masa tertentu.
Tabel Perbedaan Dialektologi Diakronis dan Sinkronis
Aspek | Dialektologi Diakronis (Historis) | Dialektologi Sinkronis |
Fokus Utama | Perkembangan dialek, dari waktu ke waktu. | Keadaan variasi dialek, pada suatu masa. |
Dimensi | Waktu / Historis | Ruang dan kondisi, pada waktu tertentu. |
Tujuan | Mengetahui perubahan dan hubungan, historis antar dialek. | Mendeskripsikan dan membandingkan, antara variasi dialek. |
Data | Dapat menggunakan data, masa lalu dan masa kini. | Umumnya menggunakan data, dari periode penelitian tertentu. |
Contoh Kajian | Perubahan bunyi atau kosakata suatu dialek, selama beberapa generasi. | Perbedaan kosakata antar daerah, pada masa penelitian. |
Pertanyaan Utama | “Bagaimana dialek tersebut berubah?” | “Bagaimana perbedaan dialek yang ada pada masa tersebut?” |
Pendekatan Dalam Dialektologi
Secara umum, kajian Dialektologi dapat dilakukan melalui Pendekatan. Berguna untuk mengetahui, mengidentifikasi, dan menjelaskan variasi bahasa yang terdapat dalam masyarakat. Guna, mengetahui logat dan pengucapan suatu kata. Apakah ada persamaan, maupun perbedaan. So, berikut beberapa pendekatannya, antara lain:
Dialektologi Tradisional
Dialektologi Tradisional berfokus pada perbedaan bahasa berdasarkan wilayah, pemetaan dialek, batas-batas dialek, hubungan geografis antar dialek. Peneliti biasanya, mengumpulkan data dari berbagai titik pengamatan. Kemudian, mencoba menentukan pola persebarannya.
👉Contoh :
Geografi Dialek
Geografi Dialek menjadi, salah satu pendekatan penting dalam Dialektologi. Mempelajari tentang, persebaran unsur-unsur Linguistik secara geografis. Contohnya: Peneliti ingin mengetahui variasi kata untuk "Pisang" di berbagai Daerah. Sehingga, terdapat Data yang ditunjukkan dalam tabel berikut:
Wilayah | Bentuk |
A | Bentuk 1 |
B | Bentuk 1 |
C | Bentuk 2 |
D | Bentuk 2 |
E | Bentuk 3 |
Data tersebut, kemudian dilakukan pemetaan. Tujuannya, melihat apakah terdapat pola geografis tertentu. Artinya, setiap daerah apakah ada persamaan kata atau perbedaan. Ada tidaknya perubahan logat dan ucapan, dalam sebuah diksi.
Pendekatan Struktural
Pendekatan Struktural adalah, pendekatan yang mengkaji perbedaan dan persamaan dialek berdasarkan unsur-unsur atau struktur bahasa itu sendiri. Dengan pendekatan ini, Peneliti membandingkan sistem bahasa yang digunakan oleh penutur di daerah yang berbeda. Tujuan pendekatan ini, menggambarkan secara sistematis bagaimana suatu dialek berbeda dari dialek lainnya berdasarkan unsur kebahasaan. Dengan demikian, lebih menitikberatkan pada bentuk dan sistem kebahasaan yang membedakan suatu dialek dengan dialek lainnya.
👉Aspek Kajian :
Fonologi, yaitu perbedaan bunyi bahasa atau cara pengucapan. Misalnya, suatu kata dapat memiliki perbedaan bunyi ketika diucapkan oleh masyarakat dari dua daerah.
Morfologi, yaitu perbedaan dalam pembentukan kata, seperti penggunaan imbuhan atau bentuk kata.
Sintaksis, yaitu perbedaan dalam susunan kata atau pembentukan kalimat.
Leksikon, yaitu perbedaan kosakata yang digunakan untuk menyebut benda, aktivitas, atau konsep tertentu.
Semantik, yaitu perbedaan makna suatu kata atau ungkapan dalam dialek yang berbeda.
👉Contoh :
Peneliti membandingkan bahasa, yang digunakan masyarakat di dua desa. Ternyata, untuk menyebut benda yang sama. Masyarakat Desa A menggunakan kata X, sedangkan masyarakat Desa B menggunakan kata Y. Perbedaan tersebut dapat dianalisis secara struktural, khususnya pada aspek leksikon.
Pendekatan Sosiolinguistik
Pendekatan Sosiolinguistik adalah, pendekatan yang mengkaji variasi bahasa dengan mempertimbangkan faktor sosial masyarakat menggunakan bahasa tersebut. Pendekatan ini melihat bahwa, perbedaan bahasa tidak hanya disebabkan oleh faktor geografis. Tetapi, juga oleh kondisi sosial penuturnya. Tujuan pendekatan ini, menjelaskan mengapa suatu variasi bahasa muncul dan bagaimana variasi tersebut digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu. Dengan demikian, tidak hanya bertanya “Apa perbedaan bahasa yang digunakan?”. Tetapi, juga bertanya tentang “Siapa yang menggunakan bentuk tersebut, dalam situasi apa, dan faktor sosial apa yang mempengaruhinya?”.
👉Faktor Sosial Mempengaruhi Pendekatan Ini :
Usia, karena generasi muda dan generasi tua dapat menggunakan bentuk bahasa yang berbeda.
Jenis Kelamin, dalam masyarakat tertentu dapat ditemukan perbedaan pilihan bahasa berdasarkan gender.
Pendidikan, yang dapat mempengaruhi pilihan kosakata dan bentuk bahasa.
Pekerjaan, karena kelompok pekerjaan tertentu dapat memiliki istilah atau kosakata khusus.
Status Sosial, yang dapat mempengaruhi tingkat formalitas dan pilihan bahasa.
Mobilitas Masyarakat, misalnya perpindahan penduduk atau interaksi dengan masyarakat dari daerah lain.
Situasi dan Konteks Komunikasi, misalnya perbedaan bahasa ketika berbicara dalam situasi resmi dan tidak resmi.
👉Contoh :
Pada suatu daerah, generasi tua masih menggunakan kosakata tradisional. Sedangkan, generasi muda lebih banyak menggunakan kosakata baru. Perbedaan tersebut dapat dikaji melalui, pendekatan Sosiolinguistik. Tentunya dengan melihat faktor usia, pendidikan, interaksi sosial, dan perubahan budaya.
Isoglos Dalam Dialektologi
Isoglos dalam Dialektologi menjadi, konsep yang sangat penting dalam geografi dialek. Merupakan, garis pada peta yang digunakan untuk menunjukkan batas persebaran suatu ciri Linguistik tertentu. Penting untuk dipahami bahwa, Isoglos tidak selalu merupakan batas politik. Batas dialek dapat mengikuti sungai, pegunungan, jalur perdagangan, pola permukiman, atau bahkan tidak memiliki batas yang jelas.
👉Contoh :
Sebelah Timur menggunakan bentuk A
Sebelah Selatan menggunakan bentuk B
Garis yang menunjukkan batas persebaran A dan B disebut, Isoglos.
Bundel Isoglos Dalam Dialektologi
Bundel Isoglos dalam Dialektologi, sangatlah penting. Karena, satu Isoglos saja biasanya belum cukup untuk menentukan batas dialek. Namun, apabila beberapa Isoglos berkumpul atau berdekatan, terbentuklah Bundel Isoglos (Isogloss Bundle).
👉Contoh :
Isoglos 1 → Membedakan bunyi A dan B.
Isoglos 2 → Membedakan kosakata X dan Y.
Isoglos 3 → Membedakan akhiran tertentu.
Isoglos 4 → Membedakan bentuk gramatikal tertentu.
Jika keempatnya memiliki, persebaran yang relatif sama. Maka, wilayah tersebut dapat menunjukkan adanya perbedaan dialek yang kuat.
Dialektometri Dalam Dialektologi
Pada perkembangan modern, penelitian Dialektologi juga menggunakan metode Kuantitatif yang disebut Dialektometri. Merupakan, pendekatan untuk mengukur secara Kuantitatif tingkat perbedaan atau jarak Linguistik antara dua atau lebih titik pengamatan. Dialektometri dapat menggunakan data leksikal, fonologis, morfologis, sintaksis.
👉Contoh :
Misalnya terdapat empat wilayah = A — B — C — D
Peneliti membandingkan data bahasa, masing-masing wilayah. Jika A dan B memiliki banyak kesamaan, maka jarak Linguistiknya kecil. Jika A dan D memiliki banyak perbedaan, jarak Linguistiknya besar. Secara sederhana, semakin banyak perbedaan Linguistik → semakin besar jarak Dialektal-nya.
Isoglos vs Dialektometri Dalam Dialektologi
Isoglos vs Dialektometri dalam Dialektologi, keduanya mempunyai perbedaan. Isoglos, bersifat visual dan geografis. Menunjukkan, persebaran ciri tertentu. Biasanya, digunakan dalam peta dialek. Sedangkan pada Dialektometri bersifat Kuantitatif, menghitung tingkat perbedaan, dapat menghasilkan ukuran jarak Linguistik, bisa digunakan untuk analisis statistik. Keduanya, dapat dipakai secara bersama-sama.
Demikianlah artikel dari RATU EKA BKJ yang membahas tentang, Dialektologi. Berkaitan dengan Variasi, Cabang, Pendekatan, Isoglos, Bundel Isoglos, Dialektometri, Isoglos vs Dialektometri. Sehingga, dapat berguna bagi Anda para pembaca. Tentunya, dalam memperluas ilmu pengetahuan seputar Linguistik. Memperdalam kajiannya, di ranah akademis dan teoritis. Sarana referensi dan rujukan. Baik pada penelitian, maupun penulisan karya. Oke Guys, sekian dari Kami EKA BKJ dan terimakasih.

Komentar