Penulis : @Ratu Eka Bkj
CEO, Owner, Founder “EKA BKJ”
RATU EKA BKJ - Linguistik Terapan mempunyai berbagai teori-teori penting, yang dicetuskan oleh para tokoh ahli. Baik, sebagai konsep yang ilmiah dan terstruktur. Maupun, dapat diimplementasikan secara praktis dalam bidang kebahasaan. Tentunya, menjadi panduan praktis dan metodologis dalam dunia akademis.
Ataupun, pengaplikasian di bidang komunikasi dan penulisan. Mencangkup, pemerolehan bahasa kedua dan pembelajaran language asing pun juga dikaji. So, untuk lebih jelasnya mengenai Linguistik Terapan. Yukz, langsung cek pemaparan dari RATU EKA BKJ yang di bawah Guys! Cekidot.
Teori-Teori Linguistik Terapan dan Tokohnya!
Linguistik Terapan menjadi kajian praktis. Mengaplikasikan konsep yang bersifat teoritis, ke ranah sektor real. Implementasi pada penggunaan bahasa. Baik itu, digunakan untuk menganalisis suatu language. Maupun, upaya menjawab masalah terkait kebahasaan. Meskipun, studi ini bersifat aplikatif. Tapi, juga terdapat teori-teori yang perlu dipahami, antara lain:
Teori Behaviorisme (Behaviorism Theory)
Tokoh : B. F. Skinner dan John B. Watson
Konsep utamanya menjelaskan tentang bahasa dipelajari melalui pembiasaan, stimulus, respons, dan penguatan (reinforcement). Respons yang mendapat penguatan, cenderung akan diulang. Pendekatan ini, kebiasaan berbahasa berkembang melalui latihan dan respons terhadap lingkungan. Teori Behaviorisme berpengaruh besar, terhadap metode pengajaran bahasa. Menekankan, pada pengulangan dan pembentukan kebiasaan. Kelebihan dari teori ini yaitu cocok untuk melatih pelafalan, kosakata dasar, dan pola bahasa. Sedangkan keterbatasannya terletak pada, pengulangan saja tidak cukup. Jika untuk membuat Pelajar, mampu menggunakan bahasa secara kreatif dalam situasi baru.
👉Implementasi :
Guru memberikan, contoh pengucapan kata atau kalimat.
Pelajar menirukan, pengucapan tersebut secara berulang.
Guru memberikan, koreksi dan penguatan positif.
Pelajar berlatih pola kalimat, melalui latihan terstruktur.
👉Contoh : Guru mengatakan, “She is reading”. Kemudian, Siswi-Siswa menirukan kalimat tersebut. Lalu, berlatih dengan pola yang sama: “He is eating” dan “They are playing”.
Teori Nativisme (Nativist Theory)
Tokoh : Noam Chomsky
Konsep utamanya terletak pada, manusia memiliki kemampuan biologis bawaan untuk memperoleh bahasa. Chomsky mengkritik pandangan bahwa, bahasa dapat dijelaskan hanya melalui peniruan dan pembiasaan. Menurut perspektif Nativisme, manusia mempunyai kapasitas mental dalam mengenali pola dan membentuk kalimat yang belum pernah didengar sebelumnya. Gagasan ini berkaitan dengan, Tata Bahasa Generatif dan konsep Universal Grammar (Tata Bahasa Universal). Keunggulan dari teori ini, bisa menjelaskan kreativitas berbahasa dan kemampuan menghasilkan kalimat baru. Sedangkan kekurangannya, tidak secara langsung memberikan prosedur pembelajaran kelas yang lengkap. Peran interaksi sosial, pengalaman, dan lingkungan juga perlu dipertimbangkan.
👉Implementasi :
Guru memberikan contoh kalimat, dalam berbagai struktur.
Siswi-Siswa diminta, menemukan pola tata bahasa.
Pelajar menyusun kalimat baru, berdasarkan pola yang dipahami.
Guru mendorong Siswi dan Siswa menghasilkan kalimat sendiri, bukan sekadar meniru.
👉Contoh : Setelah mempelajari pola “I like apples”, Pelajar dapat membuat kalimat baru seperti “I like bananas” dan “I like poetry”.
Teori Pemerolehan Bahasa Kedua Stephen Krashen
Tokoh : Stephen Krashen
Konsep utamanya membahas tentang, pemerolehan bahasa berkembang ketika Pelajar memperoleh comprehensible input. Yaitu, bahasa yang dapat dipahami dan sedikit melampaui tingkat kemampuan mereka saat ini. Kelebihan teori ini, dapat mendukung pembelajaran melalui konteks dan pemahaman makna. Sedangkan keterbatasannya, masukan yang dapat dipahami meskipun penting tetapi tidak selalu cukup tanpa interaksi, latihan menghasilkan bahasa, dan umpan balik. Krashen mengemukakan beberapa hipotesis, antara lain :
Acquisition-Learning Hypothesis = Membedakan pemerolehan bahasa secara relatif alami, dari pembelajaran aturan bahasa secara sadar.
Input Hypothesis = Menekankan pentingnya, masukan bahasa yang dapat dipahami. Sering diringkas dengan rumus, i+1 (Artinya, tingkat kemampuan saat ini ditambah unsur baru).
Affective Filter Hypothesis = Kecemasan, motivasi, dan kepercayaan diri dapat mempengaruhi keterbukaan Pelajar terhadap masukan bahasa.
Monitor Hypothesis = Pengetahuan aturan yang dipelajari secara sadar dapat digunakan, untuk memantau atau mengoreksi penggunaan bahasa dalam kondisi tertentu.
👉Implementasi :
Guru menggunakan cerita, video, dialog, dan bacaan yang sesuai dengan tingkat Siswi-Siswa.
Materi memuat kosakata baru, dalam konteks yang dapat dipahami.
Pelajar diberi kesempatan mendengarkan dan membaca, sebelum dituntut menghasilkan bahasa yang kompleks.
Guru menciptakan suasana kelas yang mendukung, dan tidak mempermalukan Siswi-Siswa ketika melakukan kesalahan.
👉Contoh : Siswi-Siswa pemula, membaca cerita bergambar berbahasa Inggris. Walaupun terdapat beberapa kata baru, ilustrasi, dan konteks membantu mereka memahami isi cerita.
Teori Sosiokultural (Sociocultural Theory)
Tokoh : Lev Vygotsky
Konsep utamanya terletak pada, pembelajaran bahasa berkembang melalui interaksi sosial, bantuan dari orang lain, dan penggunaan alat budaya. Termasuk bahasa itu sendiri. Dua konsep penting dalam teori ini, yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan Scaffolding. Zone of Proximal Development (ZPD) adalah, jarak antara kemampuan yang dapat dilakukan Pelajar sendiri dan kemampuan dapat dicapai dengan bantuan. Scaffolding ialah, bantuan sementara dari Guru atau teman yang lebih mampu, kemudian dikurangi secara bertahap ketika Siswi-Siswa semakin mandiri. Nilai plus dari teori ini, mampu mengembangkan kemampuan bahasa sekaligus kerjasama dan kemandirian. Sedangkan kekurangannya, Guru perlu memastikan semua Siswi dan Siswa berpartisipasi. Bantuan yang diberikan harus sesuai, dengan kebutuhan masing-masing.
👉Implementasi :
Diskusi kelompok dan kerja berpasangan.
Guru memberikan petunjuk, contoh, atau kerangka kalimat.
Siswi-Siswa lebih mahir, membantu teman yang masih kesulitan.
Guru mengurangi bantuan, ketika Pelajar telah mampu mengerjakan tugas secara mandiri.
👉Contoh : Pelajar diminta menceritakan tentang, pengalaman liburan dalam bahasa Inggris. Guru menyediakan kerangka “Last holiday, I went to ...” dan “I enjoyed it because ...”. Setelah berlatih, Siswi dan Siswa mencoba bercerita tanpa kerangka tersebut.
Teori Interaksi (Interaction Hypothesis)
Tokoh : Michael H. Long
Konsep utamanya, interaksi yang bermakna dapat membantu pemerolehan bahasa. Terutama ketika penutur berusaha saling memahami, meminta klarifikasi, dan memperbaiki kesalahpahaman. Pada komunikasi, Siswi dan Siswa tidak hanya menerima bahasa. Tetapi perlu menyesuaikan bahasa mereka, agar dipahami orang lain. Proses ini dapat membuat, Pelajar lebih memperhatikan bentuk bahasa dan maknanya. Kelebihan dari teori ini, melatih keterampilan komunikasi nyata dan kemampuan memperbaiki kesalahpahaman. Sedangkan minus-nya, interaksi tidak otomatis efektif apabila Siswi dan Siswa hanya menggunakan bahasa yang sudah dikuasai. Tanpa tantangan, atau umpan balik yang memadai.
👉Implementasi :
Percakapan berpasangan.
Permainan mencari informasi (information-gap activities).
Simulasi wawancara.
Aktivitas meminta klarifikasi, seperti “Could you repeat that?” atau “What do you mean?”
👉Contoh : Siswi-Siswa A memiliki jadwal kegiatan, yang berbeda dari Siswi-Siswa B. Mereka harus bertanya dan menjawab, untuk menemukan waktu yang sama-sama tersedia.
Teori Output (Output Hypothesis)
Tokoh : Merrill Swain
Konsep utamanya, menghasilkan bahasa melalui berbicara dan menulis. Membantu Pelajar menyadari kesenjangan antara bahasa, yang ingin digunakan dan kemampuan mereka miliki. Ketika berbicara atau menulis, Siswi dan Siswa mungkin menyadari bahwa mereka belum mengetahui kosakata, tata bahasa, atau bentuk ungkapan tertentu. Kesadaran ini mendorong mereka mencari solusi, menguji hipotesis, dan memperbaiki penggunaan bahasa. Keuntungan dari teori ini, membantu meningkatkan ketepatan dan kelancaran berbahasa. Sedangkan kekurangannya, Siswi dan Siswa membutuhkan bekal bahasa, kesempatan berlatih, dan umpan balik yang sesuai.
👉Implementasi :
Menulis paragraf dan merevisinya.
Presentasi lisan.
Menceritakan kembali isi bacaan.
Menulis dialog, kemudian mendiskusikannya dengan teman.
👉Contoh : Siswi dan Siswa menulis “Yesterday I go to school”. Setelah menerima umpan balik, Pelajar memperbaikinya menjadi “Yesterday I went to school”.
Teori Kompetensi Komunikatif (Communicative Competence)
Tokoh : Dell Hymes
Konsep ini kemudian dikembangkan, dalam model pengajaran bahasa. Tentunya oleh sejumlah Peneliti, termasuk Canale dan Swain. Konsep utamanya mengkaji tentang, kemampuan berbahasa tidak hanya berarti mengetahui tata bahasa. Tetapi, juga mengetahui cara menggunakan bahasa secara tepat dalam konteks sosial. Kelebihan dari teori ini, menghubungkan pembelajaran bahasa dengan kebutuhan komunikasi nyata. Sedangkan keterbatasannya, Guru tetap perlu mengajarkan bentuk bahasa secara eksplisit. Agar, Siswi dan Siswa tidak hanya lancar tetapi juga akurat. Kompetensi komunikatif mencakup beberapa kemampuan yang saling berkaitan, antara lain:
Kompetensi Gramatikal = Menguasai kosakata, tata bahasa, dan struktur kalimat.
Kompetensi Sosiolinguistik = Menyesuaikan bahasa dengan situasi, hubungan sosial, dan lawan bicara.
Kompetensi Wacana = Menyusun kalimat, agar menjadi percakapan atau teks yang koheren.
Kompetensi Strategis = Menggunakan strategi, untuk mengatasi kesulitan komunikasi.
👉Implementasi :
Bermain peran, dalam situasi sehari-hari.
Simulasi memesan makanan, meminta petunjuk, atau melakukan wawancara.
Latihan menulis email, baik formal dan informal.
Penilaian yang mencakup ketepatan bahasa, dan keberhasilan menyampaikan pesan.
👉Contoh : Siswi dan Siswa membandingkan ungkapan “Give me the book” dengan “Could you please give me the book?” Mereka belajar bahwa, pemilihan ungkapan bergantung pada konteks dan hubungan sosial.
Teori Pembelajaran Berbasis Tugas (Task-Based Language Teaching / TBLT)
Tokoh : Jane Willis dan Michael H. Long
Konsep utamanya mengkaji tentang, bahasa dipelajari melalui penyelesaian tugas yang memiliki tujuan atau hasil jelas. Tugas menjadi pusat kegiatan pembelajaran, bukan sekadar latihan pola kalimat. Keunggulan dari teori ini, mengintegrasikan bahasa dengan pemecahan masalah, kolaborasi, dan komunikasi bermakna. Sedangkan minus-nya, tugas harus dirancang sesuai kemampuan Pelajar. Tanpa arahan secara tepat, maka sebagian Pelajar lebih banyak menggunakan bahasa Ibu atau bahasa daerah bahkan bahasa slang / gaul, menyerahkan anggota kelompok lain yang mengerjakan tugas.
👉Implementasi :
Salah satu model yang banyak digunakan terdiri atas tiga tahap, antara lain:
Pre-Task = Guru mengenalkan topik, tujuan, dan kosakata yang dibutuhkan.
Task Cycle = Pelajar menggunakan bahasa, untuk menyelesaikan tugas. Kemudian, menyiapkan laporan atau presentasi hasilnya.
Language Focus : Guru dan Pelajar meninjau kosakata, tata bahasa, dan ungkapan yang muncul selama pengerjaan tugas.
👉Contoh : Siswi dan Siswa bekerja dalam kelompok, untuk merencanakan perjalanan wisata selama dua hari. Mereka membandingkan harga, menentukan tempat kunjungan, membuat jadwal, dan mempresentasikan rencana dalam bahasa Inggris.
Teori Analisis Kesalahan (Error Analysis Theory)
Tokoh : S. Pit Corder
Konsep utamanya membahas tentang, kesalahan Pelajar merupakan sumber informasi tentang proses pembelajaran bahasa. Bukan sekadar tanda kegagalan. Guru menganalisis kesalahan, untuk mengetahui pola kesulitan Pelajar. Misalnya, dalam penggunaan bentuk jamak, kala, susunan kata, atau pengucapan. Kelebihan dari teori ini, membantu Guru merancang pembelajaran sesuai kebutuhan Pelajar. Sedangkan keterbatasannya, tidak semua kesalahan memiliki penyebab yang sama. Guru perlu mempertimbangkan konteks, tahap perkembangan, dan bahasa pertama Siswi dan Siswa.
👉Implementasi :
Mengumpulkan contoh tulisan, atau tuturan Siswi dan Siswa.
Mengidentifikasi kesalahan yang berulang.
Mengelompokkan kesalahan berdasarkan jenisnya.
Menentukan penyebab, yang mungkin dan memberikan latihan perbaikan.
👉Contoh : Siswi dan Siswa berulang kali menulis “She have two cats”. Guru mengidentifikasi masalah, kesesuaian subjek dan verba. Kemudian, memberikan latihan seperti “She has”, “He has”, dan “They have”.
Teori Bahasa Antara (Interlanguage Theory)
Tokoh : Larry Selinker
Konsep utamanya tentang, pembelajar bahasa kedua membangun sistem bahasa sementara yang memiliki pola dan aturan tersendiri. Sistem ini disebut, Interlanguage (Bahasa Antara). Bahasa digunakan Siswi dan Siswa, bukan sekadar bahasa pertama yang diterjemahkan atau bahasa sasaran belum sempurna. Sistem tersebut berkembang seiring bertambahnya pengalaman, masukan, dan latihan. Salah satu fenomena yang dibahas dalam teori ini, adalah Fossilization. Yaitu, kecenderungan sebagian bentuk bahasa yang belum sesuai dengan bahasa sasaran bertahan dalam jangka panjang. Nilai plus dari teori ini, membantu Guru memahami bahwa perkembangan bahasa berlangsung bertahap. Sedangkan keterbatasannya, Guru tidak boleh menganggap semua kesalahan akan hilang secara otomatis seiring waktu. Sebagian membutuhkan, perhatian dan latihan khusus.
👉Implementasi :
Guru menganalisis perkembangan bahasa Pelajar, dari waktu ke waktu.
Siswi dan Siswa menyimpan portofolio tulisan, dan rekaman berbicara.
Guru memberikan umpan balik, terhadap pola kesalahan yang menetap.
Penilaian mempertimbangkan kemajuan, bukan hanya hasil akhir.
👉Contoh : Pelajar Indonesia menulis “I very like English”. Guru membantu Siswi dan Siswa, memahami pola bahasa Inggris yang lebih tepat. Misalnya, “I really like English”.
Teori Analisis Kontrastif (Contrastive Analysis)
Tokoh : Robert Lado
Konsep utamanya terkait, membandingkan bahasa pertama (B1) dan bahasa kedua (B2). Guna, untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan struktur bahasa yang mungkin mempengaruhi pembelajaran. Perbedaan antara bahasa pertama dan bahasa sasaran, dapat menimbulkan kesulitan tertentu. Misalnya, penutur bahasa Indonesia perlu mempelajari penggunaan “to be” dalam kalimat bahasa Inggris, karena struktur kedua bahasa tersebut berbeda. Kelebihan dari teori ini, sanggup mengantisipasi kesulitan yang berkaitan dengan perbedaan bahasa. Sedangkan keterbatasannya, tidak semua kesalahan disebabkan oleh pengaruh bahasa pertama. Siswi dan Siswa juga dapat melakukan kesalahan, ketika mengembangkan aturan bahasa kedua.
👉Implementasi :
Membandingkan susunan kalimat, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Mengidentifikasi perbedaan, tata bahasa dan bunyi.
Memberikan latihan pada aspek, yang berpotensi menimbulkan kesulitan.
Menggunakan perbandingan bahasa, untuk menjelaskan kesalahan Siswi dan Siswa.
👉Contoh :
Bahasa Indonesia = “Aku seorang Mahasiswi”
Bahasa Inggris = “I am a College Student”
→ Guru menjelaskan bahwa, bahasa Inggris membutuhkan “am” dalam konstruksi tersebut. Sedangkan bahasa Indonesia, tidak memerlukan kata penghubung yang sama.
Teori Pembelajaran Kognitif dan Konstruktivisme
Tokoh : Jean Piaget (Pendekatan Konstruktivisme), juga berkaitan dengan pemikiran Lev Vygotsky (Pendekatan Kognitif).
Konsep utamanya terkait, pembelajaran secara aktif membangun pemahaman melalui pengolahan informasi, pengalaman, pengetahuan sebelumnya, dan pemecahan masalah. Pada studi bahasa, Siswi dan Siswa tidak hanya menghafal aturan. Tetapi juga memahami hubungan antara bentuk, makna, dan penggunaan bahasa. Mereka membentuk pola, menguji pemahaman, dan memperbaiki konsep yang keliru. Kelebihan dari teori ini, mendorong pemahaman mendalam dan kemampuan menerapkan pengetahuan pada situasi baru. Sedangkan kekurangannya, penemuan mandiri tanpa bimbingan dapat menyulitkan Pelajar pemula. Guru perlu menyediakan contoh, petunjuk, dan penjelasan yang memadai.
👉Implementasi :
Menemukan pola tata bahasa, dari sejumlah contoh.
Mengelompokkan kosakata berdasarkan makna.
Membuat peta konsep.
Menyelesaikan masalah bahasa secara berkelompok.
Merefleksikan strategi belajar, yang paling efektif.
👉Contoh : Guru memberikan beberapa kalimat, dalam bentuk simple past tense. Pelajar mengamati perubahan kata kerja, membandingkan contoh, lalu menyimpulkan pola penggunaannya dengan bimbingan Guru.
Metode Respons Fisik Total (Total Physical Response / TPR)
Tokoh : James J. Asher
Konsep utamanya mengenai, pembelajaran bahasa dikaitkan dengan gerakan fisik dan respons terhadap instruksi lisan. Siswi dan Siswa memahami bahasa melalui hubungan antara kata, perintah, dan tindakan. Metode ini sangat berguna, untuk pembelajar pemula dan anak-anak. Kelebihan dari teori ini, membantu pemahaman kosakata konkret, meningkatkan keterlibatan, dan menghubungkan bahasa dengan pengalaman langsung. Sedangkan keterbatasannya, kurang memadai jika digunakan sendirian untuk mengajarkan keterampilan menulis akademik atau diskusi abstrak.
👉Implementasi :
Guru memberikan perintah, dalam bahasa sasaran.
Siswi dan Siswa merespons, dengan tindakan fisik.
Guru secara bertahap, menambah kompleksitas instruksi.
Pelajar kemudian dapat bergantian, memberikan perintah kepada teman.
👉Contoh : Guru mengatakan, “Stand up”, “Open your book”, dan “Walk to the door”. Siswi dan Siswa, melakukan tindakan sesuai instruksi.
Ringkasan
Contoh Implementasi Teori Linguistik Terapan Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris
Teori dalam Linguistik Terapan, dapat diimplementasikan secara nyata. Salah satu contohnya, dalam bidang pembelajaran Bahasa Inggris. Misalnya: Guru ingin mengajarkan materi describing people, kepada Pelajar SMP. Beberapa teori dapat digabungkan, dalam satu kegiatan pembelajaran. Ilustrasinya bisa kalian amati, sebagai berikut:
👉Skenario Pembelajaran
Materi : Describing People
Durasi : 45 - 60 menit
Tahap 1 → Input bahasa
Teori Krashen = Guru menunjukkan gambar seseorang, dan memberikan deskripsi sederhana. Misalnya seperti kalimat, “She has long hair” dan “She is friendly”. Siswi-Siswa mendengarkan dan memahami, maknanya melalui gambar.
Tahap 2 → Interaksi
Teori Long dan Hymes = Siswi-Siswa bekerja berpasangan untuk bertanya dan menjawab, tentang ciri fisik serta kepribadian seseorang.
Tahap 3 → Produksi Bahasa
Teori Swain = Pelajar menulis paragraf pendek, yang mendeskripsikan teman atau tokoh terkenal.
Tahap 4 → Kolaborasi
Teori Vygotsky = Para Siswi dan Siswa saling memeriksa tulisan, dengan panduan Guru. Kemudian, memperbaikinya berdasarkan umpan balik.
Tahap 5 → Evaluasi
= Guru menilai ketepatan tata bahasa, kosakata, keterpaduan paragraf, dan kemampuan Siswi-Siswa menyampaikan deskripsi dengan jelas.
👉Contoh tersebut menunjukkan bahwa, Guru tidak harus memilih hanya satu teori. Pendekatan yang berbeda, dapat saling dipadukan. Tentunya sesuai tujuan pembelajaran, tingkat kemampuan Pelajar, dan konteks kelas. Pendekatan Eklektik seperti ini juga dikenal, dalam praktik pengajaran bahasa modern.
Pembelajaran Bahasa Kedua Dalam Linguistik Terapan
Linguistik Terapan juga mengkaji tentang, Pembelajaran Bahasa Kedua (Second Language Learning). Tentunya, menjadi bidang yang penting untuk dibahas. Misalnya: Seorang Penutur Bahasa Indonesia belajar Bahasa Jepang. Ia mungkin mengalami kesulitan, karena struktur bahasa Jepang berbeda dengan Bahasa Indonesia. Contohnya, struktur sederhana Bahasa Indonesia: “Aku makan nasi”. Sedangkan dalam bahasa Jepang: “Watashi wa gohan o tabemasu”. Secara sederhana: Aku + makan + nasi. Perbedaan struktur tersebut, dapat menjadi bahan penelitian Linguistik Terapan.
Pengajaran Bahasa Asing di Linguistik Terapan
Linguistik Terapan banyak digunakan, dalam Pengajaran Bahasa Asing. Diantaranya seperti: Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Jepang, Bahasa Jerman, Bahasa Prancis, Bahasa Mandarin, Bahasa Korea, dan bahasa lainnya. Kajian yang dibahas, dapat meliputi beberapa hal topik. Diantaranya seperti: Metode Pengajaran, Bahan Ajar, Strategi Belajar, Pengajaran Kosakata, Pengajaran Tata Bahasa, Pengajaran Berbicara, Pengajaran Membaca, Pengajaran Menulis.
Demikianlah artikel dari RATU EKA BKJ yang membahas tentang, Linguistik Terapan. Berkaitan dengan Teori-Teori, Contoh Implementasi, Pembelajaran Bahasa Kedua, Pengajaran Bahasa Asing. Sehingga, dapat berguna bagi Anda para pembaca secara umum. Tentunya, untuk memperdalam keilmuan di bidang Kebahasaan. Terlebih, sebagai kajian akademis dan referensi karya tulis. Oke Guys, sekian dari Kami EKA BKJ dan terimakasih.

Komentar