Penulis : @Ratu Eka Bkj
CEO, Owner, Founder “EKA BKJ”
RATU EKA BKJ - Dialektologi menjadi, kajian yang penting dalam Linguistik. Karena, berkaitan dengan bidang dialek dalam suatu bahasa. Yakni, logat pengucapan sebuah kata bisa berbeda-beda antar wilayah atau daerah. Sehingga, dikaji secara mendalam mengenai faktor dan implementasi. Misalnya, pengucapan kata “Saya” di Pulau Jawa vs di Pulau Sumatra. Terdapat, perbedaan dalam melafalkan.
Pulau Jawa akan melafalkan kosa kata dengan jelas sesuai redaksi yaitu, “Saya”. Karena, dipengaruhi sejarah Bahasa Jawa Kawi (Majapahit) berlogat “a” yang diadopsi dalam membuat Bahasa Indonesia. Sedangkan, orang Pulau Sumatra yang bersuku Melayu asli akan membunyikan kata menjadi “Saye”. Karena, logatnya murni mereka yang berakhiran “e”. So, untuk lebih jelasnya mengenai Dialektologi. Yukz, cek pemaparan dari RATU EKA BKJ yang di bawah Guys! Cekidot.
Pengertian Dialektologi
Dialektologi adalah, cabang ilmu Linguistik yang mempelajari variasi bahasa berdasarkan wilayah geografis, kelompok sosial, dan faktor-faktor lain yang menyebabkan suatu bahasa memiliki berbagai bentuk penggunaan. Istilah ini berasal dari kata “Dialect” (Dialek) dan “-logy” (Ilmu atau Kajian). Dialektologi merupakan, cabang Linguistik yang secara khusus mengkaji variasi bahasa. Terutama, variasi yang berkaitan dengan wilayah geografis. Kajian ini tidak hanya melihat bahwa, suatu daerah menggunakan bentuk bahasa yang berbeda. Tetapi, juga berusaha menjelaskan dimana perbedaan itu terjadi, bagaimana persebarannya, mengapa perbedaan tersebut muncul, dan bagaimana hubungan antara dialek dapat dipahami. Secara sederhana, Dialektologi berusaha menjawab beberapa pertanyaan, antara lain:
Mengapa bahasa yang digunakan di satu daerah berbeda dengan bahasa di daerah lain?
Seberapa jauh perbedaan bahasa antar daerah?
Dimana batas geografis antara satu dialek dan dialek lainnya?
Bagaimana suatu dialek terbentuk dan berkembang?
Apa hubungan antara dialek-dialek yang ada?
Bagaimana perubahan bahasa menyebar dari satu wilayah ke wilayah lain?
Dengan demikian, objek utama Dialektologi adalah Variasi Bahasa. Terutama, variasi yang berkaitan dengan ruang atau wilayah geografis. Contohnya: Pada Bahasa Indonesia kita dapat menemukan variasi penggunaan kata, bunyi, atau struktur tertentu di berbagai daerah. Misalnya: Bahasa Jawa, juga memiliki variasi yang sangat luas.
Diantaranya seperti: Bahasa berdasarkan Massa yaitu, Bahasa Jawa Kawi (Bahasa Sastra dan Bahasa Formal Birokrasi yang dicetuskan dan dibuat era dahulu zaman Kerajaan Medang Kamulan, Kerajaan Kahuripan, Kerajaan Kediri/Panjalu, Kerajaan Jenggala, Kerajaan Tumapel, Kerajaan Shingosari, hingga Kerajaan Majapahit asal Jawa Timur), dan Bahasa Jawa Mataram (Bahasa yang menggunakan hierarki Ngoko, Madya, Krama yang dibuat zaman Kesultanan Mataram dan Demak asal Jawa Tengah).
Lalu, variasi Bahasa Jawa berdasarkan Logat yang digunakan yaitu: Jawa Timur Arekan (Karesidenan Surabaya Raya dan Sekitarnya), Jawa Timur Tengger (Karesidenan Gunung Bromo), Jawa Timur Selatan (Karesidenan Kediri Raya dan Sekitarnya), Jawa Timur Osing (Karesidenan Banyuwangi dan Sekitarnya), Jawa Tengah Mataram (Karesidenan Kesultanan Mataram Solo-Jogja), Jawa Tengah Ngapak (Karesidenan Tegal/Banyumasan dan Sekitarnya), Jawa Tengah Pesisir (Karesidenan Semarang dan Sekitarnya).
Konsep penting dalam Dialektologi meliputi dialek, variasi bahasa, geografi dialek, titik pengamatan, informan, isoglos, bundel isoglos, dialektometri, kontinum dialek, serta variasi sinkronis dan diakronis. Pada penelitian, data dapat dikumpulkan melalui wawancara, observasi, elisitasi, rekaman, dan dokumentasi. Data kemudian dianalisis pada tingkat fonologi, leksikon, morfologi, sintaksis, dan semantik. Lalu, dapat divisualisasikan dalam bentuk peta dialek.
Terpenting, menunjukkan bahwa bahasa bukan sesuatu yang seragam. Bahasa selalu memiliki variasi. Kemudian, variasi tersebut dapat memberikan informasi penting mengenai identitas masyarakat, sejarah migrasi, kontak bahasa, perubahan bahasa, serta perkembangan kebudayaan. Pada konteks Indonesia, Dialektologi sangat penting. Karena, adanya keragaman geografis dan kebahasaan. Sehingga, menjadi salah satu objek yang sangat kaya untuk penelitian variasi bahasa.
Definisi Dialektologi Menurut Para Tokoh Ahli
Dialektologi adalah, cabang ilmu Linguistik yang mempelajari dialek atau variasi bahasa. Termasuk perbedaan bahasa berdasarkan wilayah geografis, kelompok sosial, maupun faktor-faktor lain yang mempengaruhi penggunaan bahasa. Chambers dan Trudgill misalnya, menyebut Dialektologi sebagai “The study of dialect and dialects” (Kajian tentang dialek dan dialek-dialek). Dialektologi merupakan, cabang ilmu Linguistik yang secara sistematis mempelajari variasi dan perbedaan bahasa atau dialek. Baik berdasarkan wilayah geografis, maupun faktor sosial. Tentunya, dengan memperhatikan unsur-unsur kebahasaan. Diantaranya seperti fonologi, morfologi, kosakata, dan tata bahasa. Dengan demikian, fokus utamanya bukan menentukan dialek mana yang “benar” atau “salah”. Melainkan mendeskripsikan, membandingkan, dan menjelaskan pola variasi bahasa yang digunakan oleh masyarakat. Pandangan ini sejalan dengan, Chambers dan Trudgill yang menegaskan. Bahwa, tidak tepat menganggap satu dialek secara Linguistik lebih unggul daripada dialek lainnya. So, untuk lebih jelasnya berikut beberapa pendapat para Tokoh Ahli, antara lain:
J. K. Chambers dan Peter Trudgill
Menurut Chambers dan Trudgill (1998) mengatakan, “Dialectology, obviously, is the study of dialects and dialects”.
Artinya, Dialektologi adalah ilmu yang mempelajari dialek dan berbagai dialek. Mereka juga menekankan bahwa, dialek tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk bahasa yang lebih rendah daripada bahasa standar. Semua penutur pada dasarnya menggunakan, suatu varietas atau dialek bahasa.
Pandangan Chambers dan Trudgill menunjukkan bahwa, Dialektologi tidak sekadar mencari “Bahasa yang benar” dan “Bahasa yang salah”. Sebaliknya, bidang ini berusaha memahami variasi bahasa secara ilmiah. Baik variasi berdasarkan tempat, maupun kelompok sosial. Dalam perkembangan modern kajiannya mencakup geografi dialek, dialektologi perkotaan, dan variasi sosial.
Harimurti Kridalaksana
Menurut Kridalaksana (2009: 49) Dialektologi merupakan, “Sebuah cabang Linguistik yang mempelajari variasi-variasi bahasa dengan memperlakukannya sebagai struktur yang utuh”.
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa, Dialektologi merupakan bagian dari Linguistik yang melihat variasi bahasa sebagai suatu sistem lengkap. Bukan sekadar, kumpulan perbedaan kata atau pengucapan. Misalnya: Suatu masyarakat menggunakan kata atau pengucapan yang berbeda, dari masyarakat di daerah lain. Perbedaan tersebut, tidak langsung dianggap sebagai kesalahan berbahasa. Dialektologi justru mengkaji bagaimana sistem bunyi, kosakata, morfologi, dan unsur bahasa lainnya membentuk variasi tertentu.
Mahsun
Menurut Mahsun (1995: 11) menyatakan, “Dialektologi adalah Ilmu yang mempelajari dialek, atau cabang Linguistik yang mempelajari perbedaan-perbedaan isolek”.
Istilah Isolek digunakan untuk, menyebut suatu bentuk atau sistem bahasa. Tanpa terlebih dahulu menentukan, apakah bentuk tersebut merupakan bahasa, dialek, dan subdialek. Dengan demikian, Mahsun menekankan bahwa, Dialektologi bertugas mengidentifikasi dan menganalisis perbedaan antar-isolek. Pada penelitian Bahasa Daerah di Indonesia, konsep ini penting. Karena, seringkali terdapat berbagai variasi tutur dalam satu wilayah bahasa.
Reniwati dan Nadra
Perspektif dari Reniwati dan Nadra (2009: 4) mengatakan, “Dialektologi adalah, cabang Linguistik yang mempelajari variasi bahasa”.
Mereka menjelaskan bahwa, variasi yang dimaksud berupa perbedaan-perbedaan bentuk terdapat dalam suatu bahasa. Definisi ini, menekankan kata variasi. Artinya, objek penelitian Dialektologi bukan hanya “dialek” dalam pengertian geografis. Tetapi, berbagai bentuk perbedaan dalam penggunaan bahasa. Perbedaan tersebut dapat terlihat pada kosakata, bunyi, bentuk kata, maupun struktur bahasa.
Alexander
Menurut Alexander (2006: 45), “Dialektologi adalah, ilmu yang mempelajari perbedaan internal yang berkaitan dengan Linguistik”.
Maksudnya dengan perbedaan internal adalah, perbedaan yang muncul di dalam suatu bahasa atau kelompok bahasa. Misalnya: Bahasa Jawa yang digunakan di satu daerah dapat mempunyai bentuk kosakata, pengucapan, dan struktur berbeda dengan Bahasa Jawa di daerah lain.
O'Grady dkk
O'Grady dan kolega mengungkapkan, “Dialektologi yaitu, kajian variasi bahasa yang berkaitan dengan distribusi geografis penutur”.
Definisi ini memberikan penekanan, pada faktor geografis. Dengan kata lain, Dialektologi dapat digunakan untuk melihat bagaimana suatu variasi bahasa tersebar, dari satu wilayah ke wilayah lain. Karena itu, penelitian Dialektologi sering menggunakan peta bahasa/dialek. Guna, untuk menunjukkan persebaran variasi tertentu.
David Crystal
Pendapat David Crystal (1989: 26) memandang, “Dialektologi sebagai kajian sistematis mengenai dialek regional”.
Crystal menekankan, aspek regional atau kewilayahan. Jadi, salah satu perhatian penting Dialektologi yaitu mengidentifikasi perbedaan bahasa yang muncul karena penuturnya berada di wilayah berbeda.
Ringkasan
Teori-Teori Dialektologi dan Tokohnya
Dialektologi adalah, cabang Linguistik yang mempelajari variasi bahasa berdasarkan wilayah (dialek geografis) dan variasi sosial dalam penggunaan bahasa. Dalam perkembangannya, terdapat beberapa teori atau pendekatan penting yang dipakai. Guna, untuk menjelaskan bagaimana dialek terbentuk, menyebar, dan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. So, berikut beberapa teori-teori dan tokohnya, antara lain:
Teori Gelombang (Wave Theory / Wellentheorie)
Tokoh : Johannes Schmidt
Teori Gelombang dikemukakan oleh, Johannes Schmidt pada 1872. Menurut teori ini, perubahan bahasa menyebar dari suatu pusat ke wilayah-wilayah di sekitarnya seperti gelombang. Misalnya: Suatu inovasi bahasa muncul di daerah A. Inovasi tersebut kemudian menyebar ke daerah B, C, dan D. Karena penyebaran tidak selalu sama kuatnya, daerah yang berdekatan biasanya memiliki lebih banyak persamaan bahasa. Pada teori ini, menyatakan beberapa hal penting. Diantaranya seperti: Perubahan bahasa menyebar dari satu pusat, penyebaran berlangsung secara bertahap, batas dialek tidak selalu tegas, satu dialek dapat memiliki ciri yang sama dengan beberapa dialek lain karena adanya penyebaran inovasi.
👉Contoh :
Jika suatu kata baru digunakan di sebuah kota, kemudian menyebar ke desa-desa di sekitarnya, daerah yang dekat dengan kota kemungkinan lebih cepat menggunakan kata tersebut.
Teori Pohon Keluarga (Family Tree Theory / Stammbaumtheorie)
Tokoh : August Schleicher
Teori Pohon Keluarga dikembangkan oleh, August Schleicher pada abad ke-19. Bahasa digambarkan seperti, sebuah pohon yang memiliki satu induk dan kemudian bercabang menjadi bahasa-bahasa atau dialek berbeda. Menurut pendekatan ini, bahasa-bahasa yang memiliki hubungan kekerabatan berasal dari bahasa lebih tua atau bahasa induk. Inti teorinya, menyatakan tiga hal penting. Diantaranya seperti: Bahasa mengalami pemisahan menjadi berbagai cabang, semakin jauh cabangnya maka tambah besar kemungkinan perbedaannya, hubungan kekerabatan bahasa dapat digambarkan secara genealogis. Kekurangan dari konsep ini yaitu, kurang mampu menjelaskan kenyataan bahwa dialek-dialek saling mempengaruhi melalui kontak antar masyarakat. Karena itu, Teori Gelombang kemudian menjadi pelengkap penting.
👉Ilustrasi :
Bahasa Induk
↓
├── Dialek A
├── Dialek B
└── Dialek C
Teori Isoglos
Tokoh Utama : Georg Wenker
Isoglos sebenarnya lebih tepat disebut, sebagai Metode penting dalam Dialektologi. Bukan teori tunggal. Isoglos adalah, garis khayal pada peta yang menunjukkan batas penyebaran suatu ciri kebahasaan. Georg Wenker, menggunakan data kebahasaan. Guna, untuk membandingkan variasi dialek di berbagai wilayah Jerman. Peneliti kemudian dapat memetakan perbedaan pengucapan, kosakata, dan tata bahasa. Islogos, mempunyai beberapa fungsi. Diantaranya seperti memetakan persebaran dialek, menentukan batas suatu ciri bahasa, membandingkan dialek antar wilayah, membantu menentukan daerah dialek.
👉Contoh :
Wilayah A menggunakan kata X
Wilayah B menggunakan kata Y
Garis yang memisahkan daerah penggunaan X dan Y dapat disebut, Isoglos.
Teori Dialect Geography / Geografi Dialek
Tokoh : Jules Gilliéron
Pendekatan Geografi Dialek, berkembang pesat melalui penelitian Jules Gilliéron. Ia terkenal melalui, Atlas Linguistique de la France (ALF). Memetakan variasi bahasa, di berbagai wilayah Prancis. Pendekatan ini berusaha menjawab pertanyaan : "Di mana suatu bentuk bahasa digunakan?" Data bahasa, dari banyak titik penelitian dikumpulkan dan dipetakan. Sehingga, terlihat persebaran dari ciri kebahasaan. Teori ini mempelajari tentang perbedaan kosakata, pengucapan, bentuk kata, struktur tata bahasa, perubahan bunyi. Dialektologi tidak hanya, mempelajari perbedaan bahasa secara abstrak. Tetapi, juga menghubungkannya dengan lokasi geografis penuturnya.
Teori Dialect Continuum / Kontinum Dialek
Tokoh : Peter Trudgill
Teori Kontinum Dialek menjelaskan bahwa, perbedaan dialek seringkali tidak memiliki batas yang benar-benar tajam. Artinya, jika kita berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Maka, perubahan bahasa dapat terjadi secara bertahap. Intinya, dialek tidak selalu terpisah secara mutlak. Ada daerah peralihan (transition area). Perbedaan bahasa dapat berubah secara bertahap berdasarkan jarak geografis. Konsep ini sangat berkaitan dengan, Teori Gelombang. Karena, inovasi bahasa dapat menyebar dari satu daerah ke daerah lain dengan intensitas yang berbeda.
👉Contoh :
Dialek A → A/B → B → B/C → C
Daerah berdekatan biasanya memiliki lebih banyak kesamaan, dibandingkan daerah yang berjauhan.
Teori Gravity Model Dalam Penyebaran Dialek
Tokoh : Peter Trudgill
Dalam kajian penyebaran bahasa, Trudgill juga mengembangkan gagasan mengenai Model Gravitasi (Gravity Model). Gagasan dasarnya adalah, interaksi bahasa cenderung lebih kuat antara wilayah yang memiliki populasi besar dan/atau memiliki hubungan sosial intens. Semakin besar suatu pusat masyarakat, dan semakin dekat hubungannya dengan daerah lain. Maka, semakin besar kemungkinan terjadi penyebaran inovasi bahasa.
👉Contoh :
Kota besar yang menjadi pusat perdagangan, dapat mempengaruhi kosakata atau cara pengucapan masyarakat di daerah sekitarnya.
Teori Urban Dialectology / Dialektologi Perkotaan
Tokoh : William Labov
Pendekatan ini berkembang, terutama melalui penelitian William Labov. Menunjukkan bahwa, variasi bahasa tidak hanya dipengaruhi oleh geografi. Tetapi, juga dari faktor sosial. Labov terkenal melalui, penelitian variasi bahasa di New York City. Ia menunjukkan bahwa, penggunaan bentuk bahasa tertentu dapat berkaitan dengan beberapa hal. Diantaranya seperti: kelas sosial, usia, gaya bicara, situasi komunikasi, kelompok sosial. Dengan demikian, Dialektologi modern tidak hanya bertanya tentang: "Di daerah mana bentuk bahasa X digunakan?" Tetapi juga bertanya: "Oleh kelompok sosial mana bentuk X digunakan?".
Ringkasan
Teori Dialektologi berkembang dari pendekatan, yang melihat bahasa sebagai sistem bercabang secara genealogis. Menuju pendekatan dengan melihat bahasa sebagai, sesuatu yang terus berubah akibat kontak geografis dan sosial. Secara singkatnya yakni: Schleicher → bahasa bercabang seperti pohon. Schmidt → perubahan bahasa menyebar seperti gelombang. Gilliéron & Wenker → variasi bahasa dipetakan berdasarkan wilayah. Trudgill → dialek membentuk kontinum dan dipengaruhi hubungan antar masyarakat. Labov → variasi bahasa juga sangat dipengaruhi faktor sosial. Jadi dalam Dialektologi modern, faktor geografi, sejarah, mobilitas penduduk, kontak bahasa, dan kondisi sosial perlu dipertimbangkan secara bersama-sama.
Kedudukan Dialektologi Dalam Linguistik
Kedudukan dari Dialektologi yaitu, bagian sub bidang dari Linguistik. Karena, objek yang dikajinya adalah Bahasa. Tetapi, perhatiannya lebih diarahkan pada Variasi Bahasa. Dialektologi memiliki, hubungan yang sangat erat dengan Sosiolinguistik. Perbedaan utamanya, terletak pada fokus. Dialektologi cenderung menitikberatkan, pada variasi berdasarkan geografi. Sedangkan, Sosiolinguistik lebih luas dalam mengkaji variasi berdasarkan faktor sosial. Diantaranya seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, kelas sosial, pekerjaan, dan situasi komunikasi. Secara umum Linguistik memiliki beberapa cabang, seperti:
Dialektologi → Mempelajari variasi bahasa, terutama variasi berdasarkan wilayah dan hubungan antar dialek.
Fonetik → Mempelajari bunyi bahasa secara fisik.
Fonologi → Mempelajari sistem dan fungsi bunyi dalam bahasa.
Morfologi → Mempelajari struktur kata.
Sintaksis → Mempelajari struktur kalimat.
Semantik → Mempelajari makna.
Pragmatik → Mempelajari bahasa dalam konteks penggunaannya.
Sosiolinguistik → Mempelajari hubungan bahasa dengan masyarakat.
Psikolinguistik → Mempelajari hubungan bahasa dengan proses mental.
Dialek Dalam Kajian Dialektologi
Agar dapat memahami tentang kajian, Dialektologi. Maka, Kita perlu membahas istilah Dialek. Merupakan, variasi suatu bahasa digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu dan memiliki ciri kebahasaan yang membedakannya dari variasi lain. Misalnya: Dua masyarakat, mungkin menggunakan bahasa yang sama. Tetapi, memiliki beberapa kata yang berbeda untuk menyebut benda sama. Perbedaan tersebut, tidak berarti mereka selalu menggunakan bahasa yang berbeda. Bisa saja mereka masih berada dalam satu bahasa, tetapi menggunakan dialek yang beda. So, perbedaan Dialek dapat terlihat pada beberapa hal berikut:
Pelafalan / Bunyi (Fonologi)
Perbedaan Dialek dapat terlihat dari, cara suatu bunyi atau kata diucapkan. Kata yang sama dapat memiliki, pengucapan berbeda pada daerah berbeda. Tulisannya bisa sama, tetapi bunyi dan pelafalannya berbeda.
👉Contoh :
Bahasa Indonesia “Apa” dapat dilafalkan berbeda dalam beberapa daerah. Misalnya : di Jawa diucapkan “Opo”, di Betawi dilafalkan “Ape”, di Padang dilogatkan “Apo”.
Perbedaan ini, berkaitan dengan Fonologi. Yaitu, kajian tentang sistem bunyi bahasa.
Kosakata (Leksikon)
Dialek juga dapat dibedakan. Melalui kosakata yang digunakan untuk menyebut benda, aktivitas, atau keadaan sama. Selain itu, kosakata tertentu dapat menjadi ciri khas suatu wilayah. Sebuah kata yang umum, digunakan di satu daerah. Mungkin tidak digunakan, atau memiliki bentuk berbeda di daerah lain. Intinya, benda atau konsep yang sama dapat memiliki kata berbeda.
👉Contoh :
Bahasa Jawa Kawi (Majapahit/Kerajaan Jawa Timur) dalam menyebut “Saya/Aku” terdapat beberapa pilihan. Diantaranya seperti: Ingsun, Isun, Sun, Aku, Kami, Mami, Ngwang/Ingwang/ Wang, Ngong/Ingong, Kawula.
Bahasa Jawa Kawi (Majapahit/Kerajaan Jawa Timur) dalam menyebut “Anda/Kamu” terdapat beberapa pilihan. Diantaranya seperti: Handika, Ndika, Rika, Sira, Ira, Kamung, Kamu, Tanu, Kita, Ko.
Bahasa Jawa Mataram (Kesultanan Mataram dari Jawa Tengah) dalam menyebut “Saya/Aku” terdapat beberapa pilihan. Diantaranya seperti: Isun, Aku, Kula.
Bahasa Jawa Mataram (Kesultanan Mataram dari Jawa Tengah) dalam menyebut “Anda/Kamu” terdapat beberapa pilihan. Diantaranya seperti: Panjenengan, Njenengan, Sliramu, Sampean, Awakmu, Koe/Kowe/Koen.
Morfologi
Morfologi berkaitan dengan, pembentukan kata. Misalnya: penggunaan imbuhan, perubahan bentuk kata, atau proses pengulangan. Perbedaan dialek dapat terlihat ketika, penutur dari daerah berbeda menggunakan bentuk kata atau imbuhan yang berbeda. Guna, untuk menyatakan maksud yang sama. Intinya, perbedaannya terdapat pada cara kata dibentuk atau diubah.
👉Contoh :
Dalam suatu variasi bahasa, kata dasar dapat memperoleh imbuhan tertentu, Guna, untuk membentuk kata kerja. Sedangkan pada dialek lain, dapat digunakan bentuk atau imbuhan yang berbeda. Misalnya dalam Bahasa Indonesia: “Berjalan” - “Jalan”. Sementara dalam bahasa daerah, proses pembentukan kata dapat memiliki pola yang berbeda antara satu dialek dengan dialek lainnya.
Sintaksis
Sintaksis adalah, kajian tentang susunan kata menjadi frasa, klausa, kalimat. Pada Dialektologi, dua daerah dapat menggunakan unsur kata yang hampir sama. Tetapi, susunan kalimatnya berbeda. Perbedaan Sintaksis dapat mencakup urutan kata, penggunaan kata tertentu dalam kalimat, pola kalimat, penggunaan partikel, dan konstruksi kalimat. Intinya, cara menyusun kata menjadi kalimat berbeda.
👉Contoh :
Kata dalam Bahasa Indonesia, “Aku sudah makan”.
Dalam variasi bahasa lain, susunan unsur yang digunakan untuk menyatakan makna tersebut dapat berbeda.
Makna (Semantik)
Perbedaan dialek juga dapat muncul, pada makna kata. Kata yang sama bisa mempunyai arti yang berbeda, atau nuansa makna beda di wilayah tertentu. Intinya yaitu bentuk kata bisa sama, tetapi maknanya berbeda.
👉Contoh:
Satu kata tertentu, dalam suatu daerah. Mungkin digunakan untuk, menunjukkan benda atau keadaan tertentu. Sedangkan di daerah lain, kata yang sama mempunyai makna lebih luas, sempit, atau bahkan berbeda. Perbedaan ini disebut, Variasi Semantis.
Intonasi
Intonasi adalah, naik-turunnya nada suara ketika seseorang berbicara. Penutur dari daerah yang berbeda, dapat menggunakan pola intonasi berbeda pula. Meskipun, menggunakan kata dan struktur kalimat yang sama. Misalnya: Sebuah kalimat pernyataan, dapat terdengar memiliki ciri khas tertentu. Karena beberapa sebab seperti nada suara naik atau turun, tekanan diberikan pada bagian kata tertentu, tempo berbicara berbeda, atau pola melodinya berbeda. Hal ini membuat kita, terkadang dapat mengenali asal daerah seseorang. Hanya dari cara berbicaranya, meskipun kosakata hampir sama. Intinya, cara memainkan nada dan tekanan dalam berbicara berbeda.
Ringkasan
Demikianlah artikel dari RATU EKA BKJ yang membahas tentang, Dialektologi. Berkaitan dengan Pengertian, Definisi Menurut Para Tokoh Ahli, Teori-Teori dan Tokohnya, Kedudukan, Dialek. Sehingga, dapat bermanfaat bagi Anda para reader. Guna, untuk memperdalam knowledge di bidang kebahasaan. Terutama, sebagai kajian akademis di universitas. Terlebih, untuk rujukan dan referensi. Baik, dalam penelitian maupun penulisan karya. Oke Guys, sekian dari Kami EKA BKJ dan terimakasih.

Komentar