Penulis : @Ratu Eka Bkj
CEO, Owner, Founder “EKA BKJ”
RATU EKA BKJ - Pada kajian Linguistik Historis, terdapat banyak sub bidang. Baik berhubungan dengan Perubahan Leksikal, Konsep Language Family, Rumpun Bahasa Austronesia, Metode Komparatif, Korespondensi Bunyi, Rekonstruksi Bahasa Purba. Sangat penting untuk dikaji, dalam studi kebahasaan. Sebab, ini akan saling terhubung. Guna, membentuk bahasa yang komprehensif dan baku.
Sehingga, menciptakan kata-kata menjadi kalimat dan komunikasi yang formal. Terlebih, menganalisis di dunia akademis. Baik secara teoritis, maupun praktis observasi di lapangan. Melakukan riset secara ilmiah, yang mengembangkan disiplin ilmu Linguistik. So, untuk lebih jelasnya mengenai Linguistik Historis. Yukz, cek pemaparan dari RATU EKA BKJ yang di bawah Guys! Cekidot.
Perubahan Leksikal Dalam Linguistik Historis
Pada kajian Linguistik Historis, terdapat sub bidang terkait Perubahan Leksikal. Sehingga, tidak terlepas dengan pembahasan tentang Kosakata. Merupakan, salah satu bagian bahasa yang paling mudah berubah. Suatu bahasa dapat memperoleh kata baru, melalui berbagai faktor. Yakni, berikut untuk lebih jelasnya, antara lain:
Peminjaman
Bahasa mengambil kata, dari bahasa lain. Sebagian besar kosakata, berkaitan dengan sejarah kontak bahasa dan perkembangan ilmu pengetahuan. Misalnya, dalam bahasa Indonesia di KBBI banyak menyerap dari bahasa lain. Diantaranya seperti: dari bahasa Jawa Kawi (Jawa Kuno/Majapahit), Jawa Mataram (sekarang), Melayu Kuno, Belanda, Sansekerta, Inggris, Latin, dan sejenisnya.
👉Contoh :
“sidang” diserap dari bahasa Jawa Kawi (Jawa Kuno/Majapahit) “sidha/sidhêng”
“saksi” diserap dari bahasa Jawa Kawi (Jawa Kuno/Majapahit) “sākṣi”
“kala” diserap dari bahasa Jawa Kawi (Jawa Kuno/Majapahit) “kala”
“komputer” diserap dari bahasa Inggris “computer”
“televisi” diserap dari bahasa Belanda “televisie”
“universitas” diserap dari bahasa Latin “universitas”
“semua” diserap dari bahasa Melayu Kuno “samuha”
“bumi” diserap dari bahasa Sansekerta “bhūmi”
“rampung” diserap dari bahasa Jawa sekarang (Jawa Mataram) “rampung”
“ambyar” diserap dari bahasa Jawa sekarang (Jawa Mataram) “ambyar”
Pembentukan Kata Baru
Penutur dapat menciptakan, kata melalui proses morfologis.
👉Contoh :
Kata “Cewek” dan “Cowok” lahir secara spontan dalam situasi urban di Jakarta, sebagai bahasa lisan. Demi, memberikan kesan yang lebih casual dan setara. Tanpa menyerap, dari bahasa manapun.
Pergeseran Makna
Kata lama tetap ada, tetapi maknanya berubah.
👉Contoh :
Kata “Mas” dulu dipakai untuk Perempuan dan Laki-laki, yang bergelar dan berkasta Anak dari seorang Ratu/Prabu. Contohnya: Nimas (Perempuan), Kangmas (Laki-laki). Namun, sekarang kata “Mas” hanya dipakai untuk memanggil Laki-laki. Bahkan, Laki-laki dengan Kelas Bawah (menjadi panggilan umum, tanpa ada unsur spesial).
Penghilangan Kata
Kata tertentu dapat menjadi usang, dan akhirnya jarang atau tidak lagi digunakan.
👉Contoh :
Kata “Perawan” kini sudah sangat jarang dipakai, bahkan hampir ditinggalkan. Karena, dinilai mengandung unsur patriarki. Sebab, kata “Perawan” identik mengaitkan dengan kondisi miss v seseorang apakah sudah berseksual atau belum. Sehingga, para Ahli Linguistik dan Penggiat Kesetaraan Gender lebih mengharuskan kata “Gadis” yang kini banyak dipakai. Karena, kata “Gadis” berkaitan dengan status sosial seorang Perempuan yang belum menikah. Tanpa perlu tahu, kondisi biologis seksualnya. Sehingga, kata “Gadis” dinilai lebih kesetaraan gender dan demokratis.
Konsep Language Family (Rumpun Bahasa) Dalam Linguistik Historis
Salah satu kontribusi terbesar Linguistik Historis yaitu, menemukan hubungan kekerabatan antar bahasa. Bahasa-bahasa di dunia, dapat dikelompokkan. Yakni, ke dalam rumpun bahasa berdasarkan hubungan historisnya. Contoh: bahasa pada rumpun Indo-Eropa, di dalamnya terdapat berbagai bahasa lain. Diantaranya seperti: Inggris, Jerman, Belanda, Swedia, Prancis, Spanyol, Italia, Portugis, Yunani, Rusia, Hindi, Persia, dan sejenisnya. Bahasa-bahasa tersebut, tidak berarti saling meminjam semuanya. Hipotesis historisnya bahwa, mereka memiliki leluhur bersama. Biasanya disebut, Proto-Indo-Eropa (Proto-Indo-European). Hubungannya dapat digambarkan secara sederhana, sebagai berikut:
Proto-Indo-Eropa
↓
berbagai kelompok bahasa
↓
bahasa-bahasa modern
👉Demikian itu, mirip dengan konsep pohon keluarga. Tetapi, yang dibandingkan adalah Bahasa.
Rumpun Bahasa Austronesia Dalam Linguistik Historis
Rumpun Bahasa Austronesia perlu dibahas, dalam kajian Linguistik Historis. Hal ini sangat relevan, untuk memahami sejarah bahasa Indonesia. Yakni, Bahasa Indonesia termasuk dalam rumpun Austronesia. Secara sederhana, hubungan genealogisnya dapat digambarkan. Yakni berikut ilustrasi-nya, antara lain:
Proto-Austronesia
↓
Berbagai cabang Austronesia
↓
Melayu Kuno, Jawa Kawi (Jawa Kuno), dan bahasa-bahasa kerabatnya
↓
Bahasa Indonesia modern
Rumpun Austronesia memiliki, persebaran yang sangat luas. Yaitu, dari wilayah Asia Tenggara hingga Pasifik. Beberapa jenis bahasa-bahasa tersebut, diantaranya seperti: Jawa Kawi, Jawa sekarang, Indonesia, Melayu Kuno, Melayu sekarang, Madura, Bali, Sunda, Batak, Minang/Padang, Bugis, Dayak, Tagalog, Māori, Hawaiʻi, dan banyak bahasa lainnya. Sehingga, memiliki hubungan historis dalam jaringan kekerabatan Austronesia. Meskipun, tingkat kedekatannya berbeda-beda.
Metode Komparatif Dalam Linguistik Historis
Salah satu metode terpenting dalam Linguistik Historis adalah, Metode Komparatif (Comparative Method). Teknik ini digunakan, untuk membandingkan bahasa-bahasa yang diduga memiliki hubungan kekerabatan. Misalnya, Peneliti menemukan bahwa beberapa bahasa memiliki kata yang mirip secara sistematis. So, berikut beberapa contoh sederhananya, antara lain:
Kalau pola seperti itu muncul, pada banyak kata. Maka, Peneliti dapat mencari hubungan yang sistematis. Sehingga, sangat penting dan urgent. Yaitu terkait, kemiripan satu atau dua kata saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa dua bahasa berkerabat. Oleh sebab itu, yang dicari ialah korespondensi bunyi yang teratur.
Korespondensi Bunyi Dalam Linguistik Historis
Pada studi Linguistik Historis terdapat kajian Koresponden Bunyi. Menjadi, konsep yang sangat penting. Korespondensi bunyi (kesepadanan bunyi) adalah, hubungan teratur antara bunyi-bunyi bahasa pada kata yang berkerabat dari beberapa bahasa turunan. Guna, untuk menemukan asal-usul bahasa yang sama. Pada literasi awal, istilah yang merujuk pada hubungan antara huruf (grafem) dan bunyi (fonem) saat membaca.
👉Contoh :
Bahasa A = /p/
Bahasa B = /f/
Jika pola tersebut, muncul secara konsisten. Yakni, dalam banyak kata yang memiliki hubungan historis. Maka, kita dapat menduga adanya korespondensi bunyi.
👉Misalnya :
A = p → B: f
A = p → B: f
A = p → B: f
Konsistensi semacam ini, jauh lebih kuat. Jika dibandingkan, dengan sekadar kemiripan bentuk. Sehingga, menjadi salah satu dasar untuk Ahli Linguistik melakukan rekonstruksi bahasa leluhur.
Rekonstruksi Bahasa Purba Dalam Linguistik Historis
Rekonstruksi Bahasa Purba sangat penting dikaji, dalam Linguistik Historis. Karena, sering kali bahasa leluhur tidak memiliki dokumentasi tertulis. Sehingga, Para Ahli melakukan penelitian terhadap perilaku bahasa yang ditemui sekarang. Guna, dikumpulkan dan diuji kata-katanya. Kemudian, diubah atau dibakukan menjadi bahasa komunikasi yang resmi. Terdapat beberapa pertanyaan yang perlu dipertimbangkan, antara lain:
Bagaimana kita dapat mengetahui bentuknya?
Salah satu caranya yaitu, Rekonstruksi Komparatif.
👉Contohnya terdapat tiga bahasa :
Bahasa A = pata
Bahasa B = bata
Bahasa C = pata
Ahli Linguistik, membandingkan bentuk-bentuk tersebut. Kemudian, mempertimbangkan berbagai kemungkinan perubahan bunyi. Lalu, mereka dapat mengusulkan bentuk leluhur.
👉Misalnya :
*pata
Tanda asterisk (*) biasanya digunakan untuk, menunjukkan bahwa bentuk tersebut adalah Rekonstruksi. Bukan bentuk yang ditemukan, secara langsung dalam dokumen.
👉Jadi :
*pata
👉Berarti kira-kira :
“Bentuk ini direkonstruksi, oleh Ahli Linguistik. Tapi, belum tentu pernah ditemukan secara langsung dalam sumber tertulis”.
Demikianlah artikel dari RATU EKA BKJ yang membahas tentang, Linguistik Historis. Berkaitan dengan Perubahan Leksikal, Konsep Language Family, Rumpun Bahasa Austronesia, Metode Komparatif, Korespondensi Bunyi, Rekonstruksi Bahasa Purba. Sehingga, dapat berguna bagi Anda para pembaca setia. Guna, menambah pengetahuan seputar dunia kebahasaan. Terutama, sebagai sarana edukasi dan referensi di dunia akademis. Terlebih, sebagai rujukan dalam membuat karya tulis. Oke Guys, sekian dari Kami EKA BKJ dan terimakasih.

Komentar