Pragmatik menjadi, kajian penting dalam Linguistik. Pasalnya, membahas tentang bagaimana cara memaknai makna tersirat yang ada dalam suatu kalimat. Sebab, makna ucapan tidak selalu sama dengan kata-kata yang disampaikan. Nggak selalu mencerminkan arti secara tekstual. Justru, banyak sebagian komunikasi dilakukan secara satire.
Sehingga, seseorang harus mampu mengerti maksudnya secara kontekstual. Apakah kalimat tersebut benar-benar senyatanya, atau hanya sekedar sindiran. Nah, kajian mengenai demikian terdapat dalam teori Pragmatik. So, untuk lebih jelasnya langsung cek pemaparan dari RATU EKA BKJ yang di bawah Guys! Cekidot.
Pengertian Pragmatik
Pragmatik dalam Linguistik adalah, cabang ilmu bahasa yang mempelajari bagaimana makna dipahami dalam konteks penggunaan nyata, bukan hanya dari struktur kata atau kalimat itu sendiri. Kalau Semantik, fokus pada arti “secara literal”. Sedangkan, Pragmatik melihat apa yang sebenarnya dimaksud oleh penutur dalam situasi tertentu.
Pragmatik, menjadi cabang ilmu bahasa yang mempelajari makna ujaran, berdasarkan konteks penggunaan. Artinya, tidak hanya melihat arti kata atau kalimat secara tekstual. Tetapi, juga mempertimbangkan siapa yang berbicara, kepada siapa, kapan, di mana, dan dalam situasi apa.
Pragmatik merupakan, studi tentang bagaimana makna dipahami dalam komunikasi nyata. Termasuk, maksud pembicara dan interpretasi pendengar. Secara umum, Pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari makna bahasa berdasarkan konteks penggunaannya.
Bukan hanya makna literal kata, atau struktur kalimat. Namun, kajian tentang hubungan antar bahasa dan konteks, cara penutur dan pendengar menafsirkan makna, dan bagaimana makna bisa berubah tergantung situasi.
Contoh Kalimat : “Disini panas ya.”
Artinya :
Secara Semantik (makna literal) = Menyatakan suhu panas.
Secara Pragmatik = Bisa berarti permintaan tidak langsung, untuk menyalakan kipas atau AC.
Definisi Pragmatik Menurut Para Tokoh Ahli
Pragmatik juga didefinisikan secara logis, oleh para tokoh ahli. Mereka memaparkan dengan gamblang, sesuai dengan baground masing-masing. Tentunya, mengandung subjektivitas yang rasional. So, berikut beberapa definisinya, antara lain:
George Yule
Menurut Yule dalam bukunya Pragmatics:
Pragmatik adalah, studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur dan ditafsirkan oleh pendengar.
Fokus pada niat penutur (speaker meaning). Tidak hanya melihat kata-kata. Tetapi, apa yang sebenarnya ingin disampaikan.
Contoh : “Dingin ya…” → bisa berarti minta ditutup jendelanya.
Stephen C. Levinson
Levinson menyatakan:
Pragmatik yaitu, studi tentang hubungan antara bahasa dan konteks yang menjadi dasar pemahaman makna.
Menekankan, hubungan bahasa dengan situasi. Tanpa konteks, makna bisa salah dipahami.
Contoh : “Saya lapar” → bisa berarti permintaan makan, bukan sekadar informasi.
Geoffrey Leech
Leech mendefinisikan:
Pragmatik merupakan, studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi ujar (speech situation).
Fokus pada siapa yang berbicara, kepada siapa, kapan dan di mana. Berkaitan erat dengan kesopanan (politeness).
Contoh : Cara meminta ke Dosen berbeda dengan ke teman.
Charles W. Morris
Morris (dalam semiotika) menyatakan:
Pragmatik ialah, studi tentang hubungan antara tanda (sign) dan penggunanya.
Bahasa dianggap, sebagai sistem tanda. Menekankan, bagaimana manusia menggunakan tanda tersebut. Point ini menjadi definisi paling awal, dan bersifat filosofis.
H. P. Grice
Grice tidak mendefinisikan secara langsung, tetapi melalui konsep:
Pragmatik berkaitan dengan bagaimana makna tersirat (implicature) dipahami.
Mengenalkan Prinsip Kerjasama (Cooperative Principle) : Maksim Kuantitas, Maksim Kualitas, Maksim Relevansi, Maksim Cara.
Contoh :
A = “Kamu suka film itu?”
B = “Lumayan.” → berarti tidak terlalu suka
Jenny Thomas
Menurut Thomas:
Pragmatik adalah, makna dalam interaksi (meaning in interaction).
Menekankan bahwa, makna muncul dari beberapa hal. Diantaranya seperti: interaksi penutur dan pendengar, konteks sosial, tidak bisa dipisahkan dari komunikasi nyata.
Jacob L. Mey
Mey menyatakan:
Pragmatik yaitu, studi tentang penggunaan bahasa dalam komunikasi manusia yang sebenarnya.
Fokus pada penggunaan nyata (real-life use). Tidak hanya teori, tetapi praktek komunikasi sehari-hari.
Teori-Teori Pragmatik Dalam Linguistik dan Tokohnya!
Pragmatik juga disampaikan, secara detail dan ilmiah. Berdasarkan, beberapa teori-teori yang dicetuskan. Tentunya, lengkap dengan tokoh yang mengkaji dan menelitinya. Guna, sebagai rujukan akademis dalam melakukan tafsir dan interpretasi pada teks yang mengandung makna tersirat. So, berikut beberapa teori-teorinya, antara lain:
Teori Tindak Tutur (Speech Act Theory)
Tokoh Utama : J.L. Austin dan John Searle
Menurut J.L. Austin
Dalam bukunya How to Do Things with Words, Austin menyatakan bahwa berbicara bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga melakukan tindakan.
Ia membagi tindak tutur menjadi tiga :
Lokusi (locutionary act) = Ujaran secara literal
→ Contoh : “Pintu itu terbuka.”
Ilokusi (illocutionary act) = Maksud di balik ujaran
→ Bisa berupa perintah, permintaan, janji
Perlokusi (perlocutionary act) = Efek ujaran terhadap pendengar
→ Misalnya membuat seseorang takut atau bertindak
Menurut John Searle
Searle mengembangkan teori Austin, dengan klasifikasi tindak ilokusi :
Representatif = Menyatakan fakta (melaporkan, menyimpulkan)
Direktif = Mempengaruhi tindakan orang lain (memerintah, meminta)
Komisif = Berjanji atau berkomitmen
Ekspresif = Mengungkapkan perasaan (terima kasih, maaf)
Deklaratif = Mengubah status (misalnya “Saya nikahkan…”)
Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle)
Tokoh Ahli : H.P. Grice
Grice menyatakan bahwa, komunikasi efektif terjadi karena penutur dan pendengar bekerja sama.
Dia merumuskan 4 Maksim, yaitu :
Maksim Kuantitas = Berikan informasi secukupnya
Maksim Kualitas = Katakan yang benar
Maksim Relevansi = Tetap relevan
Maksim Cara (Manner) = Jelas dan tidak ambigu
Implikatur : Ketika maksim dilanggar secara sengaja, muncul makna tersirat (implikatur).
Contoh : “Udara disini panas ya…”
→ Implikatur : Minta buka jendela
Teori Kesantunan (Politeness Theory)
Tokoh : Penelope Brown dan Stephen Levinson
Teori ini menjelaskan, bagaimana orang menjaga hubungan sosial melalui bahasa.
Konsep Utama : “Face”
Positive Face = Keinginan dihargai
Negative Face = Keinginan tidak diganggu
Strategi Kesantunan :
Bald on Record = Langsung (tanpa basa-basi)
Positive Politeness = Akrab, Ramah
Negative Politeness = Sopan, Menjaga Jarak
Off Record = Tidak langsung (implisit)
Teori Relevansi (Relevance Theory)
Tokoh : Dan Sperber dan Deirdre Wilson
Teori ini menekankan bahwa :
Komunikasi terjadi berdasarkan, pencarian relevansi maksimal dengan usaha minimal.
Prinsip Utama :
Manusia cenderung memilih interpretasi, yang paling relevan.
Konteks sangat menentukan makna
Contoh : “Sudah jam 10.”
→ Bisa Berarti = “Ayo pulang” (mengajak pulang) tergantung konteks
Teori Deiksis (Deixis Theory)
Tokoh : Charles J. Fillmore
Deiksis adalah, kata yang maknanya bergantung pada konteks.
Jenis-Jenis :
Deiksis Persona = Saya, Anda, Aku, Kamu
Deiksis Tempat = di sini, di sana
Deiksis Waktu = Sekarang, Besok
Deiksis Sosial = Penggunaan bahasa berdasarkan status sosial
Deiksis Wacana = Merujuk bagian teks
Teori Presuposisi (Presupposition)
Tokoh : Robert Stalnaker
Presuposisi adalah, asumsi yang sudah dianggap benar sebelum ujaran diucapkan.
Contoh : “Dia berhenti merokok.”
→ Presuposisi : Dia dulu merokok
Jenis-Jenis :
Eksistensial
Faktif
Leksikal
Struktural
Non-Faktif
Kontrafaktual
Teori Konteks Dalam Pragmatik
Tokoh : Dell Hymes
Teori ini menekankan bahwa, makna sangat bergantung pada situasi sosial. Hymes mengembangkan model SPEAKING, yaitu :
Setting
Participants
Ends (tujuan)
Act Sequence
Key (nada)
Instrumentalities
Norms
Genre
Teori Inferensi Pragmatik
Tokoh : Herbert Clark
Menjelaskan bagaimana pendengar menafsirkan maksud penutur, dan menggunakan konteks serta pengetahuan bersama (common ground).
Konsep-Konsep Pragmatik
Pragmatik juga menyampaikan berbagai konsep-konsep, yang penting untuk diketahui. Tentunya, sebagai pedoman dalam berbahasa. Menganalisis language dan kalimat. Mencari makna yang terkandung di dalamnya. So, berikut beberapa konsep-konsep yang harus diperhatikan, antara lain:
Konteks (Context)
Makna ujaran bergantung pada, beberapa hal context. Diantaranya seperti: Konteks Situasi (tempat, waktu, kondisi), Konteks Sosial (hubungan penutur-pendengar), Konteks Budaya.
Contoh : “Dingin ya.”
artinya
→Bisa berarti observasi suhu
→Bisa juga permintaan untuk menutup jendela
Deiksis (Deixis)
Kata-kata yang maknanya, bergantung pada konteks. Terdapat beberapa jenis-jenis dari Deiksis, antara lain:
Persona = Saya, Anda, Aku, Kamu, Mereka, Kita, Kami, Dia, Beliau
Tempat = di sini, di sana
Waktu = Sekarang, Kemarin
Contoh : “Saya akan kesana besok.”
→Maknanya berubah tergantung siapa yang bicara, kapan, dan di mana.
Tindak Tutur (Speech Act)
Diperkenalkan oleh, J. L. Austin, dan dikembangkan oleh John Searle. Membagi menjadi 3 jenis, antara lain :
Lokusi → apa yang diucapkan
Ilokusi → maksud di balik ucapan
Perlokusi → efek pada pendengar
Contoh : “Tolong tutup pintunya.”
→Lokusi = kalimat permintaan
→Ilokusi = menyuruh
→Perlokusi = seseorang menutup pintu
Implikatur (Implicature)
Konsep dari H. P. Grice.
Makna yang tidak diucapkan secara langsung, tapi dipahami.
Contoh :
A = “Kamu nanti datang ke night party?”
B = “Aku harus bangun pagi, besok masuk kerja.”
➡ Implikatur : B tidak akan datang
Prinsip Kerjasama (Cooperative Principle)
Dikemukakan oleh H. P. Grice.
Penutur biasanya mengikuti 4 Maksim :
Kuantitas → cukup informasi
Kualitas → jujur
Relevansi → sesuai topik
Cara → jelas dan tidak ambigu
Kesantunan (Politeness Theory)
Dikembangkan oleh : Penelope Brown dan Stephen Levinson
Fokus pada bagaimana orang menjaga “Muka” (Face) :
Face Positif → ingin dihargai
Face Negatif → ingin bebas dari paksaan
Contoh : “Bisa tolong tutup pintu?” (lebih sopan daripada “Tutup pintu!”)
Fungsi Pragmatik Dalam Kehidupan Nyata!
Pragmatik bukan hanya digunakan dalam, akademis dan keilmuan ilmiah saja. Namun, juga bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Baik kebutuhan sehari-hari dalam bercakap. Bahkan, implementasi pada industri publishing dan penerjemah. Selengkapnya, berikut beberapa fungsi dari Pragmatik, antara lain:
Komunikasi Sehari-Hari → Memahami maksud tersirat
Pendidikan Bahasa → Memahami penggunaan alami
Penerjemahan → Menjaga makna kontekstual
AI & NLP → Memahami niat pengguna
Interaksi Sosial → Menjaga kesopanan
Contoh Kasus Pragmatik
Pragmatik dapat diterapkan, dalam sebuah kalimat. Berikut, akan Kami berikan contohnya untuk Anda. Agar, lebih jelas dan bisa dipahami dengan seksama. Maka, example kasusnya, yaitu:
Contoh Kalimat : “Wah, rapi sekali kamarmu.”
Makna Bisa Berbeda :
→Pujian (jika kamar memang rapi)
→Sindiran (jika kamar berantakan)
➡ Inilah Inti Pragmatik : Makna tidak selalu sama dengan kata-kata.
Pragmatik menjadi, studi tentang makna yang hidup dalam konteks nyata. Ia membantu kita memahami bahwa, bahasa bukan hanya soal kata dan tata bahasa. Tetapi juga niat, situasi, dan hubungan sosial. Pragmatik dapat menjawab berbagai pertanyaan, seperti :
Apa maksud sebenarnya?
Mengapa orang mengatakan itu?
Bagaimana konteks mempengaruhi makna?
Demikianlah artikel dari Kami EKA BKJ yang membahas tentang, Pragmatik Dalam Linguistik. Berkaitan dengan Pengertian, Definisi Menurut Para Tokoh Ahli, Teori-Teori dan Tokohnya, Konsep-Konsep, Fungsi, Contoh Kasus. Sehingga, dapat berguna bagi kalian semuanya para readers. Baik, untuk menambah wawasan di bidang Bahasa. Maupun, sebagai referensi serta kajian akademis dan ilmiah. Ataupun, sebagai landasan dan implementasi dalam dunia komunikasi serta publikasi naskah. Oke Guys, sekian dari RATU EKA BKJ dan terimakasih.
Owner, Founder, CEO
= 085704703039
Customer Service
BAGI ANDA YANG SUDAH MEMBACA KONTEN & ARTIKEL DI ATAS, SILAHKAN UNTUK MEMBAYAR SEIKHLASNYA KE REKENING KAMI BERIKUT, UNTUK MENDUKUNG SITUS INI =
0481723808
EKA APRILIA.... BCA
0895367203860
EKA APRILIA, OVO

Komentar